7+ Kuliner Muntilan dengan Menu Tradisional yang Bikin Rindu Kampung Halaman

Nativeindonesia – Ada sesuatu yang selalu bikin hati hangat saat mencium aroma masakan tradisional dari dapur sederhana. Muntilan, sebuah daerah kecil yang ada di Kabupaten Magelang, ternyata punya banyak kuliner khas yang rasanya begitu dekat dengan kenangan masa kecil. Mulai dari jajanan pasar, sayur rumahan, sampai makanan legendaris yang masih bertahan sejak dulu, semuanya punya cita rasa yang bikin siapa saja ingin pulang kampung.

Kalau berkunjung ke Muntilan, rasanya belum lengkap tanpa mampir ke warung-warung tradisional yang masih mempertahankan resep turun-temurun. Di sini, makanan bukan cuma soal rasa, tapi juga cerita dan kebersamaan. Bahkan dari sepiring nasi hangat dengan lauk sederhana saja, ada rasa nyaman yang sulit dijelaskan. Tidak heran kalau banyak perantau selalu kangen dengan masakan khas Muntilan.

Menariknya lagi, kuliner Muntilan masih punya sentuhan khas rumahan yang sulit ditemukan di kota besar. Bumbu rempahnya terasa lebih autentik, porsinya mengenyangkan, dan suasana makannya pun sederhana tapi penuh kehangatan. Inilah yang membuat kuliner tradisional Muntilan selalu berhasil menghadirkan rasa rindu akan kampung halaman.

Jemunak

Jemunak

Saat bulan Ramadan tiba, Jemunak jadi salah satu jajanan tradisional yang selalu bikin kangen suasana kampung halaman. Kudapan khas Muntilan ini punya rasa manis dan tekstur lembut yang bikin siapa saja susah berhenti menikmati.

Belakangan, Jemunak juga mulai banyak dicari karena keberadaannya sudah semakin jarang ditemukan. Padahal, makanan tradisional ini punya cita rasa khas yang sulit digantikan oleh jajanan modern.

Sekilas tampilannya memang mirip bubur sumsum, tapi bahan pembuatannya berbeda. Jemunak dibuat dari campuran singkong, beras ketan, gula merah, dan parutan kelapa yang menghasilkan rasa manis legit sekaligus gurih.

Paling nikmat disantap saat masih hangat sebagai menu takjil untuk berbuka puasa. Sensasi lembut dan aroma gula merahnya benar-benar bikin suasana Ramadan terasa lebih hangat dan istimewa.

Blendrang

Blendrang

Kalau sedang berkunjung ke Muntilan, rasanya belum lengkap tanpa mencicipi blendrang. Makanan khas dari daerah Magelang ini cukup terkenal, terutama di kawasan Gunung Pring. Dari dulu sampai sekarang, blendrang masih jadi salah satu kuliner favorit yang sering dicari banyak orang karena cita rasanya yang khas dan bikin nyaman di perut.

Sekilas, blendrang terlihat seperti bubur nasi biasa. Tapi yang membuatnya berbeda adalah kuahnya yang kental dan lembut, mirip sup krim hangat dengan rasa gurih yang pas. Ditambah lagi dengan pilihan lauk yang beragam, mulai dari daging ayam, sapi, hingga iga, membuat seporsi blendrang terasa makin nikmat dan mengenyangkan.

Dulu, blendrang identik banget dengan suasana bulan Ramadan. Hidangan satu ini sering hadir di meja makan sebagai menu favorit untuk berbuka puasa bersama keluarga. Namun karena banyak orang jatuh hati dengan rasanya, sekarang kuliner khas Muntilan ini sudah bisa dinikmati kapan saja, tidak perlu menunggu bulan puasa lagi untuk mencicipi kehangatannya.

Gudeg Poncol

Gudeg Poncol

Jika bicara soal kuliner khas Jogja, rasanya memang selalu bikin orang kangen untuk datang lagi. Tidak heran kalau makanan tradisional seperti gudeg selalu ramai diburu para pelancong yang sedang mampir ke daerah Yogyakarta dan sekitarnya.

Salah satu yang cukup terkenal ada di kawasan Poncol. Tempat ini punya sajian gudeg dengan cita rasa khas yang sering jadi incaran para pencinta kuliner tradisional.

Kuliner Muntilan yang satu ini sekilas mirip dengan gudeg khas Yogyakarta. Terbuat dari olahan nangka muda yang dimasak hingga bumbu meresap, lalu disajikan bersama ayam, telur bacem, dan krecek. Semuanya semakin nikmat karena disiram kuah santan gurih yang bikin makan jadi tambah lahap.

Mangut Beong

Mangut Beong

Kalau biasanya orang mengenal mangut lele sebagai kuliner khas Jawa Tengah, di Muntilan ada satu hidangan yang nggak kalah terkenal, yaitu mangut beong. Sesuai namanya, masakan ini dibuat dari ikan beong yang jadi ciri khas daerah tersebut.

Sekilas, ikan beong memang mirip seperti lele. Bedanya, ukuran ikan ini jauh lebih besar dan dagingnya juga terasa lebih tebal. Karena itu, banyak pecinta kuliner tradisional penasaran ingin mencoba sensasi rasanya yang khas.

Uniknya lagi, mangut beong umumnya disajikan menggunakan bagian kepala ikan saja. Meski berbeda bahan dan penyajiannya dengan mangut lele, cita rasa keduanya tetap punya ciri khas yang menggugah selera, yaitu gurih, sedikit manis, dan dipadukan rasa pedas yang bikin makan jadi makin nikmat.

Kluban

Kluban

Kalau di beberapa daerah makanan ini lebih familiar dengan sebutan urap, masyarakat Muntilan mengenalnya sebagai kluban. Meski tampilannya sederhana, kuliner tradisional satu ini punya cita rasa khas yang bikin susah dilupakan, apalagi kalau disantap saat masih hangat.

Kluban dibuat dari aneka sayuran rebus maupun kukus yang kemudian dicampur dengan kelapa parut berbumbu. Isi sayurnya juga beragam, mulai dari kangkung, kacang panjang, tauge, wortel, hingga kol yang membuat hidangan ini terasa segar sekaligus mengenyangkan.

Selain terkenal enak, kluban juga dikenal sebagai makanan yang kaya nutrisi karena dipenuhi sayuran sehat. Biasanya, hidangan ini makin nikmat saat ditambah teri goreng renyah sebagai pelengkap yang memberi rasa gurih.

Di Muntilan sendiri, kluban cukup mudah ditemukan, terutama di warung-warung makan tradisional. Paling pas menikmatinya bersama nasi hangat, telur, dan tempe goreng yang bikin suasana makan terasa seperti di rumah sendiri.

Soto Magelang

Soto Magelang

Banyak orang menyebut hidangan ini sebagai soto khas Magelang. Padahal, di kawasan Muntilan sendiri makanan legendaris ini lebih akrab dikenal dengan nama nasi lesah.

Sekilas tampilannya memang mirip seperti soto pada umumnya. Bedanya, nasi lesah disajikan di atas piring, bukan di mangkuk. Justru dari cara penyajiannya itu, kuliner satu ini punya daya tarik tersendiri yang bikin siapa saja penasaran ingin mencicipinya.

Kuahnya berwarna kuning dengan campuran santan dan rempah yang terasa begitu gurih di lidah. Isiannya juga lengkap, mulai dari suwiran ayam, tauge rebus, bihun, kol, taburan bawang goreng, irisan daun bawang segar, sampai kerupuk yang membuat rasanya makin nikmat. Cocok disantap saat hangat, apalagi ketika cuaca sedang dingin atau hujan turun.

Tape Ketan

Tape Ketan

Jika berbicara soal kuliner khas Muntilan, tape ketan jadi salah satu yang paling banyak diburu para wisatawan. Rasanya seperti ada yang kurang kalau sudah mampir ke Muntilan tapi belum sempat mencicipi manis legitnya tape ketan ini. Bahkan, banyak orang sengaja membawanya pulang untuk dijadikan oleh-oleh bagi keluarga dan orang tercinta di rumah.

Menariknya lagi, tape ketan khas Muntilan bisa dinikmati dengan banyak cara. Ada yang suka mencampurkannya ke dalam es dawet, es campur, sampai es teler supaya rasanya makin segar dan nikmat. Tidak sedikit juga yang menikmatinya bersama ketan uli, emping melinjo, atau camilan tradisional lainnya yang bikin sensasi makannya semakin lengkap.

Tape ketan ini dibuat dari beras ketan pilihan yang difermentasi menggunakan ragi hingga menghasilkan perpaduan rasa manis dan sedikit asam yang khas. Biasanya, tape ketan Muntilan hadir dalam dua warna, yaitu hijau dan putih. Meski warnanya berbeda, keduanya tetap punya cita rasa yang sama lezatnya, apalagi kalau disantap dalam keadaan dingin saat cuaca sedang panas.

Getuk Trio

Getuk Trio

Saat sedang jalan-jalan ke Muntilan, rasanya belum lengkap kalau belum mencicipi getuk trio yang sudah cukup terkenal di daerah ini. Jajanan tradisional satu ini punya cita rasa khas yang sederhana, tapi selalu bikin kangen setelah mencobanya.

Getuk trio dibuat dari bahan utama singkong pilihan yang diolah dengan cara khusus hingga menghasilkan tekstur yang lembut, empuk, dan pulen saat digigit. Rasa manisnya juga pas, terasa legit tanpa berlebihan, sehingga cocok dinikmati kapan saja, baik saat santai bersama keluarga maupun sebagai oleh-oleh khas Muntilan.