7 Kuliner Favorit Dieng yang Paling Dicari Wisatawan Saat Musim Dingin

Nativeindonesia – Berlibur ke Dieng rasanya belum lengkap jika belum mencicipi aneka kuliner khas yang selalu menjadi incaran wisatawan, terutama ketika musim dingin tiba. Udara yang bisa mencapai suhu sangat rendah membuat makanan dan minuman hangat menjadi pilihan terbaik untuk menemani perjalanan menikmati keindahan dataran tinggi ini.

Tak hanya menawarkan panorama alam yang memukau, Dieng juga memiliki beragam hidangan lezat yang mampu menghangatkan tubuh sekaligus memanjakan lidah. Mulai dari makanan tradisional hingga camilan khas daerah, semuanya memiliki cita rasa unik yang sulit ditemukan di tempat lain.

Jika kamu berencana berkunjung ke Dieng saat musim dingin, jangan lewatkan kesempatan untuk mencicipi berbagai kuliner favorit yang selalu ramai diburu wisatawan. Berikut beberapa pilihan makanan dan minuman khas Dieng yang wajib masuk dalam daftar kulinermu selama berada di kawasan wisata ini.

Mie Ongklok

Mie Ongklok

Mie Ongklok merupakan salah satu kuliner khas Wonosobo yang sangat populer dan wajib dicicipi saat berkunjung ke daerah ini. Hidangan ini dibuat dari mie kuning yang direbus bersama irisan kol dan daun kucai, kemudian disajikan dengan kuah kental yang berasal dari campuran pati, ebi, serta bumbu kacang yang menghasilkan cita rasa gurih dengan sentuhan manis yang khas.

Untuk menambah kelezatannya, Mie Ongklok umumnya disajikan bersama sate sapi yang empuk dan tempe kemul sebagai pelengkap. Perpaduan berbagai bahan tersebut membuat hidangan ini tidak hanya lezat, tetapi juga cukup mengenyangkan dan mampu memberikan rasa hangat di tubuh. Karena itu, Mie Ongklok menjadi pilihan yang tepat untuk dinikmati saat cuaca dingin di kawasan dataran tinggi Dieng.

Purwaceng

Purwaceng

Kalau berkunjung ke kawasan Dieng, jangan lewatkan kesempatan untuk mencicipi purwaceng. Minuman tradisional khas pegunungan ini sering dijuluki sebagai “ginseng dari Jawa” karena sejak dulu dipercaya dapat membantu menjaga stamina sekaligus memberikan rasa hangat pada tubuh.

Purwaceng dibuat dari tanaman yang tumbuh di dataran tinggi Dieng. Cara penyajiannya pun cukup sederhana, yaitu diseduh layaknya teh atau kopi sehingga mudah dinikmati kapan saja, terutama saat udara dingin mulai terasa.

Soal rasa, purwaceng menawarkan pengalaman yang berbeda dari minuman pada umumnya. Ada sentuhan pahit yang ringan, berpadu dengan sensasi hangat dan sedikit pedas, serta aroma herbal yang khas. Bagi kamu yang ingin mencoba minuman tradisional dengan cita rasa autentik khas pegunungan, purwaceng bisa menjadi pilihan yang menarik untuk dicicipi.

Tempe Kemul

Tempe Kemul

Kalau sedang berkunjung ke Wonosobo, jangan sampai melewatkan Tempe Kemul yang sudah lama menjadi camilan favorit masyarakat setempat. Berbeda dengan tempe goreng biasa, Tempe Kemul memiliki ukuran yang lebih lebar dengan lapisan tepung yang tipis dan renyah. Tempe yang telah diiris tipis dicelupkan ke dalam adonan tepung berbumbu kunyit, lalu ditambahkan irisan daun bawang sebelum digoreng hingga berwarna kuning keemasan.

Saat masih hangat, aroma bawang putih dan rempah-rempahnya langsung tercium dan membuat siapa saja ingin segera mencicipinya. Teksturnya juga sangat menggoda, renyah di bagian luar tetapi tetap lembut di bagian dalam. Perpaduan rasa gurih dan tekstur yang pas membuat camilan ini disukai oleh berbagai kalangan.

Biasanya, Tempe Kemul disajikan sebagai teman menikmati hidangan khas Wonosobo, yaitu Mie Ongklok. Namun, banyak wisatawan yang memilih menikmatinya langsung sebagai camilan saat bersantai atau setelah menjelajahi keindahan kawasan Dieng. Rasanya yang sederhana tetapi lezat membuat Tempe Kemul selalu dirindukan oleh para pengunjung.

Sagon

Sagon

Jika kamu sedang berada di Dieng, jangan lupa mencicipi sagon, jajanan tradisional yang masih mempertahankan popularitasnya di kalangan masyarakat. Kudapan sederhana ini dibuat dari campuran kelapa parut, tepung ketan atau tepung beras, serta sedikit gula yang kemudian diolah menjadi adonan khas dengan cita rasa gurih dan manis yang pas.

Setelah adonan siap, sagon dibentuk pipih lalu dibakar hingga matang. Proses pembakaran inilah yang membuat bagian luarnya terasa renyah dengan warna kecokelatan yang menggugah selera, sementara bagian dalamnya tetap lembut saat digigit. Aroma kelapa bakar yang harum juga menjadi daya tarik tersendiri yang membuat siapa saja ingin segera mencobanya.

Menikmati sagon terasa semakin nikmat ketika disantap pada sore hari ditemani secangkir teh hangat. Suasana sejuk khas Dieng, ditambah pemandangan perbukitan yang diselimuti kabut tipis, membuat pengalaman menikmati camilan tradisional ini terasa lebih istimewa dan sulit dilupakan.

Nasi Megono

Nasi Megono

Kalau sedang berkunjung ke Dieng, jangan lewatkan kesempatan untuk mencicipi nasi megono yang menjadi salah satu makanan khas favorit masyarakat setempat. Hidangan ini terbuat dari nangka muda yang dicincang halus, kemudian dikukus dan dicampur dengan parutan kelapa serta berbagai bumbu pilihan yang menghasilkan cita rasa gurih dengan sentuhan manis yang khas.

Biasanya, nasi megono disajikan bersama beragam lauk pendamping seperti tempe kemul, telur dadar, hingga ikan asin yang semakin menambah kenikmatan saat menyantapnya. Meski terlihat sederhana, perpaduan rasa dan aromanya mampu membuat siapa saja ketagihan. Tak heran jika makanan tradisional ini sering menjadi pilihan untuk mengisi energi sebelum atau sesudah menikmati pesona alam dan budaya yang ditawarkan kawasan Dieng.

Dendeng Gepuk

Dendeng Gepuk

Kalau sedang berkunjung ke Wonosobo, jangan lewatkan kesempatan untuk mencicipi dendeng gepuk yang menjadi salah satu hidangan favorit masyarakat setempat. Olahan daging sapi ini dibuat dengan cara dipukul atau digeprek hingga teksturnya lebih empuk, kemudian dimasak menggunakan racikan bumbu khas yang menghasilkan cita rasa gurih dengan sentuhan manis yang pas di lidah.

Saat disantap bersama sepiring nasi putih hangat, aroma dan kelezatan dendeng gepuk terasa semakin menggoda. Setiap potongan dagingnya begitu lembut sehingga mudah dinikmati oleh siapa saja. Hidangan ini juga sangat cocok disantap ketika cuaca dingin menyelimuti kawasan Dieng, memberikan sensasi hangat dan kenyang yang memuaskan.

Menariknya, dendeng gepuk tidak hanya nikmat sebagai lauk utama, tetapi juga sering dijadikan pelengkap berbagai makanan khas Wonosobo, seperti Mie Ongklok maupun nasi megono. Perpaduan rasa dari berbagai hidangan tersebut membuat pengalaman kuliner di daerah ini semakin berkesan dan sayang untuk dilewatkan.

Carica

Carica

Kalau berkunjung ke kawasan Dieng, rasanya belum lengkap tanpa mengenal carica. Buah yang menjadi ciri khas dataran tinggi ini sekilas memang terlihat seperti pepaya mini. Namun, carica memiliki karakter rasa yang berbeda karena cenderung asam dengan sedikit sentuhan pahit, sehingga jarang dimakan langsung dalam kondisi segar.

Agar lebih nikmat, buah carica biasanya diolah menjadi manisan yang direndam dalam sirup manis. Proses pengolahan tersebut membuat rasanya menjadi lebih seimbang dan menyegarkan, sehingga banyak disukai oleh wisatawan yang datang ke Dieng.

Saat ini, manisan carica banyak dijual dalam kemasan botol kaca maupun wadah plastik yang praktis dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Perpaduan rasa manis dan asam yang khas menghadirkan sensasi segar di setiap gigitan. Karena itulah, manisan carica kerap menjadi pilihan untuk dinikmati setelah makan atau sebagai camilan santai saat berkumpul bersama keluarga dan teman.